orang gila yang konsisten
hikmah July 26th, 2010
gerimis di pagi buta belum juga reda. saya membuka pintu depan untuk bersiap megantar putri pertama saya ke sekolah. saya kaget. sesosok lelaki berpakaian kumal berbaring miring ke kiri di lantai teras. perlahan saya dekati, ternyata lelaki itu tidak tidur. matanya masih terbuka, namun tak mempedulikan saya yang mendekatinya.
perlahan saya melepas kunci pagar rumah dan membukanya lebar-lebar. “alo pak, sudah pagi nih”, sapa saya sok akrab. sebenarnya ini cara saya mengusir rasa cemas. sosok laki-laki ini sepertinya orang yang tidak waras. orang sakit jiwa alias gila. pakaiannya kumal dan compang-camping. rambutnya awut-awutan. badanya memancarkan aroma bau badan seperti orang tidak mandi berhari-hari. usianya sekitar 30-an tahun. saya perhatikan, tatapan mata lelaki itu masih segaris dengan miring badannya. dia cuek saja. saya menjadi gelisah, masuk ke dalam rumah terus keluar lagi. saya bingung, apa yang harus saya lakukan.
“pak, sudah pagi”, saya kembali menyapanya. pintu pagar rumah masih terbuka lebar. berharap orang gila ini bangkit dari berbaringnya dan menggeloyor ke luar rumah saya. karena waktu sudah hampir jam 6 pagi, waktunya mengantar putri pertama saya ke sekolah. hampir 10 menit berlalu sejak saya melihatnya pertama kali.




About














