“Ternyata kapitalisme tidak hanya meng-eksploitasi kekayaan alam negara yang sedang berkembang, tetapi juga meng-eksploitasiMenkes RI kekayaan tubuh manusia dari bangsa-bangsa yang tidak berdaya. Mereka ambil darah kita. Mereka ambil sel-sel tubuh kita dan mereka ambil antibodi kita. Dan yang paling berbahaya mereka telah mengambil sel-sel otak kita untuk direkayasa dengan cara berpikir mereka, sehingga kita harus menuruti saja apa perintahnya”. Itulah cuplikan buku Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI, dalam bukunya “Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan Dibalik Flu Burung”.

Membaca buku karya Ibu Menkes ini, seakan membawa kita ikut terlibat dalam suasana perjuangannya dalam berdiplomasi melawan kapitalis dan sebuah tatanan dunia yang telah bertahan selama 60 tahun. Disajikan dengan cara bercerita yang terus mengalir secara runtut dan dengan gaya putri solo ini yang spontan, tanpa tedeng aling-aling bahkan terkesan reaktif. Karena disajikan dengan gaya ini sering kali terjadi pengulangan-pengulangan bahasan yang mungkin dimaksudkan untuk memberikan penekanan, tetapi secara substantif buku ini mampu memberikan sesuatu yang berbeda bagi Indonesia.

Bagaimanapun sudah menjadi rahasia umum, seperti apa kekuasaan dan kekuatan Amerika Serikat lewat tangan WHO. Banyak orang dan pejabat sudah mengerti bagaimana USA & PBB (WHO, red) berperan dengan standar ganda. Tapi mereka semua, negara dan pejabatnya, hanya diam seribu bahasa, cari untung sendiri bahkan cari selamat sendiri. Tidak peduli dengan diamnya mereka itu, rakyat dunia di rugikan oleh ambisi kekuasaan dan rakusnya kapitalis yang menyedot darah rakyat dunia.

Siti Fadilah Supari (Indonesia) mencoba membongkar dan mendobrak tatanan dunia yang konon telah bertahan 60 tahun itu. Dimana setiap negera di dunia ini harus mengirimkan virus influensa kepada WHO tanpa tahu virus itu dikirim, diolah dan disimpan dimana. Dan anehnya lagi, jika ditemukan vaksin akibat virus tersebut, maka negara asal virus itu tidak berhak atas patennya, tetapi justu perusahaan atau lembaga yang meneliti itulah yang mendapat patennya. Praktis, pemilik paten akan mendapat untung besar dengan penjualan vaksin dengan harga tinggi, bahkan kepada negara asal virus tersebut. Apalagi disinyalir beberapan virus itu, dipakai sebagai senjata biologi.

Hal itu juga berlaku terhadap virus flu burung. Dari Vietnam dan Indonesia telah berpuluh kali mengirim virus itu ke WHO CC. Dan Indonesia tidak pernah tahu virus itu kemana sekarang itu. Sistem inilah yang coba didobrak oleh Indonesia. Harus ada transparansi dan keadilan dalam pengelolaan virus. Buku ini menceritakan dengan sangat runtut bahkan detil bagaimana Indonesia dipimpin Menkes berjuang untuk transparansi dan keadilan itu. Tergambar dengan jelas bagaimana berat dan tebalnya tembok keangkuhan kapitalis itu.

Salut buat Ibu Menkes. Indonesia membutuhkan orang-orang seperti Anda yang mampu mendobrak ketidakadilan, kapitalis rakus dan memikirkan rakyat. Semoga saja Ibu Menkes konsisten.





2 Comments to “Teladani Menkes RI dalam Diplomasi”

  1.   mus | April 4th, 2008 at 7:59 pm

    Beginilah seharusnya kita bersikap dan berpendirian. Kecerdasan dan keberanian luar biasa yang dimiliki ibu Menteri Kesehatan. Biarpun AS & negara maju selalu membayangi & mendikte negeri kita. Bukan berarti kita harus kehilangan jati diri. Tidak ada yang Hebat atau Kuat, kecuali yan di Atas.

  2.   Anjari Umarjianto » Blog Archive » Selamat Berjuang, Ibu Menkes! | May 22nd, 2008 at 10:42 am

    […] kita ketahui, Ibu Menkes Siti Fadilah Supari sebagai ketua delegasi Indonesia di sidang WHO terdahulu, berhasil me…. Sekali lagi, selamat berjuang, ibu menkes!. Jangan pantang menyerah!. Leave a comment Comment […]

Leave a Comment