punokawan.jpgBudayawan menyampaikan bahwa degradasi moral dan kemunduran bangsa ini karena meniadakan dan mengkerdilkan kearifan lokal. Sebuah pandangan, idealisme dan norma yang demikian dianut dan dipatuhi turun temurun sehingga menjadi ideologi dalam berfikir, berucap dan berperilaku. Demikian juga dengan Indonesia dan Presidennya. Sebuah kearifan lokal bagaimana memimpin negeri digambarkan ideal seperti kepemimpinan Pandawa dari Negeri Amarta dalam dunia pewayangan. Itulah yang aku coba fahami terhadap apa yang disampaikan Cak Nun (Emha Ainun Najib) ada acara Kenduri Cinta, 16 Mei 2008 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Idealnya, di awal kemerdekaan itu kita mempunyai presiden dengan karakteristik Yudistira (Puntadewa). Tetapi itu hanya sebuah ketidakmungkinan. Apa ada bangsa ini orang yang begitu memikirkan orang lain bahkan seekor anjing daripada memikirkan dirinya sendiri. Kalau perlu istrinya pun diserahkan jika ada yang meminta. wong edan! :) Kenyataannya kita mempunyai presiden Bung Karno, yang berperangai mirip Bima (Werkudoro). Blak-blakan, lantang dan keras bicaranya, berani, dan tegas. Masih bagus lah. bagaimanapun, Bima, putra kedua Pandawa adalah insan pilihan.

Setelah masa kepemimpinan Bima berakhir, maka digantikan Harjuno, lanangin jagad. Ganteng, murah senyum dan sakti mandraguna. Nah, tahulah kita, dia sang “smiling general, Pak Harto. Sampai disini, regerasi kepresidenan sudah sesuai harapan. Semestinya sesudah, Harjuno selesai memimpin, digantikan oleh Nakulo kemudian Sadewo agar bangsa ini lepas landas, hidup makmur dalam keadilan dan mandiri. Tetapi rupanya sang Dalang tidak patuh pada pakem pewayangan, Harjuno tidak diganti oleh Nakulo tetapi oleh Gareng, anak pertama Semar. Dia merupakan anggota Punokawan pengasuh para ksatria Pandawa yang sebenarnya mempunyai kemuliaan melebihi anak asuhnya. Tetapi mempunyai bentuk fisik yang kurang nge-pop dan tidak komersial. he..he.. :)

Gareng digambarkan secara fisik matanya yang membelalak, bicaranya cempreng dan terbata-bata, tangganya besar sebelah. Gambaran orang cerdas, jujur dan suka memberi (murah hati). It’s OK. Biarpun salah alur masih beruntung karena negeri ini pimpin orang seperti Gareng.

“Cak, maksudnya Habibie itu Gareng?”. Celetuk kenduri cinta. “Lah itu sampeyan yang ngomong lho”, balas Cak Nun sambil tertawa. Kalau mengikuti pakem, semestinya Gareng digantikan oleh Petruk. Dan menurut kearifan lokal, Petruk ini menjadi raja yang benar-benar adil. Eh.. tetapi lagi-lagi keluar pakem. Karena yang menggantikan Gareng bukan Petruk tetapi malah Bagong. Bagong digambarkan tokoh yang tambun, slengekan, suka maunya sendiri.

“Ayo Cak, berani gak ngomong, maksudnya siapa?. “Gusdur, gitu aja kok repot,” kata Cak Nun dan disambut tertawa jama’ah. Seperti pakem pewayangan, setelah Punokawan maka disusul munculnya Limbok. Perempuan anaknya TOgog. Cocok juga dengan realista bahwa setelah Gusdur digantikan oleh Megawati. Setalah Limbok, maka diganti munculnya adegan Raksasa dan perang. Anda tentu tahu maksudnya :)





2 Comments to “Seperti Apakah Presiden Indonesia?”

  1.   tonosaur | May 28th, 2008 at 10:06 pm

    ehehehe..

    lumayan menghibur tulisannya..
    thanks. :D

  2.   Anjari Umarjianto | May 29th, 2008 at 8:53 am

    syukur deh, saya msh menghibur pak tonosaur? tks juga :)

Leave a Comment