Belum hilang dalam ingatan, betapa dahsyatnya kejadian waktu itu. Perjalanan udara selama kurang dari 30 menit itu terasa berjam-jam lamanya. Mencekam dan menakutkan.

Waktu berjalan terasa lambat dan goncangan pesawat semakin terasa. Malah sering juga diselingi pesawat seakan-akan jatuh ke dalam jurang yang dalam. berdesir dada dan nafas terasa megap-megap. konon katanya karena hampa udara. tapi anehnya aku belum merasa khawatir. Sampai akhirnya pesawat seakan menabrak polisi tidur hingga menyebabkan aku terpental keatas. Rasa khawatir, gelisah dan pastinya takut langsung menyelimutiku. Spontan ucapan Alloh, keluar dari mulutkku. kudengar penumpang lain banyak yang beristighfar. Kemudian disusul pesawat bergoncang hebat. Ya Allah, apa yang terjadi, begitu batinku.

Yah, penerbangan Lampung Jakarta merupakan most horrible flight selama saya melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat udara. Pengalaman itu menimbulkan trauma dalam hidupku, meski tidak semua rute penerbangan.  Dan karena alasan trauma itulah, aku berusaha menghindar untuk kembali ke Lampung dengan pesawat terbang.

Tetapi tidak kali ini. Jum’at kemarin, aku ditugaskan atasanku untuk pergi ke Lampung. Ada 2 rumah sakit yang harus divisite untuk melihat kelayakan dan kemampuan pelayanannya. Aku berusaha untuk menghindar dari tugas itu tetapi kali ini ternyata tidak berhasil. Dengan setengah hati, akhirnya aku berangkat juga ke Lampung dengan pesawat Sriwijaya Air. Armada yang sama ketika peristiwa itu terjadi.

Sebelum berangkat, aku berpamitan dengan istri dan anakku. Kudekap erat dan kucium hangat mereka. Meskipun ritual ini sudah biasa, tetapi saat ini agak lama kulakukan itu semua. Setelah pamit, aku pun melangkah menuju bandara. Sepanjang perjalanan ke bandara, aku terus tergambar peristiwa itu.

Gaduh rasanya. Kawan, duduk disebelah kananku, yang sejak goncangan tadi sudah memegang tanganku, semakin erat memeluk punggung tanganku. Dia membenamkan mukanya di pangkukannya. Dingin sekali tanganya. Sambil kutepuk-tepuk punggungnya untuk menenangkan fikirannya.

Lima menit sebelum pendaratan, kulihat cahaya di langit jakarta. Terima kasih Allah. kau bebaskan dari penerbangan yang mengerikan ini. Aku tepuk kawanku yang ketakutan tadi, dan kuminta melihat keluar jendela untuk menenangkannya. Oh my god, wajahnya yang putih itu pucat pasi. ketakutan yang luar biasa rupanya memeluknya. Kasian sekali. Setelah pesawat mendarat dan berhenti, kawanku itupun tak sanggup berdiri. rasa takut, stress masih menguasainya.

Hatiku makin menciut manakala ingat kawanku itu sekarang sudah meninggal. Iya, perempuan yang ketakutan itu meninggal 2 bulan lalu dalam usia yang masih muda ketika berjuang melahirkan anaknya. (Selamat jalan, Mbak Salwa. Semoga engkau tergolong orang yang mati syahid hingga tiada tempat yang pantas untukmu selain surga).

Saya mencoba ikhlas dan pasrah. Apa yang terjadi, terjadilah. Begitu batinku. Sampai di bandara aku mencoba banyak berdiskusi dengan satu timku mengenai berbagai hal untuk melupakan kenangan itu. Jam keberangkatan pesawat pun akhirnya tiba. Aku duduk di belakang jendela darurat. Aku hanya diam dan berdoa. Aku mencoba pasrah. Melepaskan beban trauma yang menghimpit pikiran dan hatiku. Ya Allah, tiada tuhan selain engkau. Ya Allah, aku pasrahkan diriku kepadaMu. Sesungguhnya tiada kekuatan dan daya upaya selain dari pada Engkau. Itulah doa yang aku ucapkan berulang kali sejak duduk di dalam pesawat menjelang take off.

Bunyi menderu mesin jet pesawat pun terasa tak terdengar. Peragaan penggunaan seal belt dan alat pelampung oleh para pramugari yang cantik pun tak lagi menarik. Aku hanya pasrah dan berdoa. Pelan-pelan pesawat bergerak, semakin kencang, kencang dan melesat. Kupejamkan mata dan kuucapkan doa, tidak lagi dalam hati hati.

Satu, dua, tiga detik berlalu. Semenit, dua menit, 5 menit berlalu. Hatiku mulai tenang, tidak ada goncangan yang berarti. Pesawat melesat dengan tenang. Pelan-pelan kubuka mata dan mengintip keluar melalui jendela pesawat. Terlihat awan putih bak hamparan kapas diterpa matahari pagi. Sementara dibawah sana lautan nampak berwana biru kihijauan yang luas. Sungguh indah!. Hatiku pun terasa ringan dan tenang. Lima belas menit berlalu tanpa terasa suara pramugari terasa merdu menyampaikan bahwa sebentar lagi akan mendarat di Bandara Raden Inten Lampung. Tak berapa lama pesawat pun mendarat meski dengan agak kasar.

Setelah selesai melaksanakan tugas, aku dan timku pun kembali ke Jakarta. Meskipun penerbangan tadi pagi lancar dan tenang. Tetapi hatiku masih belum benar-benar melupakan kejadian itu. Ditambah cuaca yang tidak mendukung. Lampung hujan deras, persis kejadian bulan Maret lalu. Jam 21.00, pesawat Merpati belum juga datang. Penerbangan delayed. Lagi-lagi, aku menghilangkan kegelisahan dengan mengobrol dengan timku. Satu jam kemudian, kami pun terbang dalam kondisi masih gerimis.

Yah, seperti saat keberangkatan. Hanya doa dan pasrah. Lagi-lagi sepanjang perjalanan aku mencoba memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Mendadak, ada goncangan ketika penerbangan sudah mendekati Jakarta. Glek!. Rupanya ada turbulensi. Untuk beberapa saat goncangan itu membuat ciut nyaliku. Syukurlah tidak begitu keras hentakannya.

Kucoba melihat keluar. Gelap meski ada cahaya dibawah sana. Hmm…. Jakarta di waktu malam hari. Gemerlap indah dengan lampu-lampunya. Tak seberapa lama, pesawat pun mendarat dengan tenang. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah!

Messages of the day :

  1. Takut adalah manusiawi. Boleh juga trauma, tetapi dengan pasrah semuanya bisa dilewati. Dengan doa, hati yang lemah itu menjadi tenang. Kadang ketakutan itu begitu berlebihan menyelimuti hati, hingga lebih besar dari ancaman sebenarnya.
  2. Hadapi ketakutan dengan mengakrabinya. Jangan dihindari. Dengan lebih mengenal rasa takut itu, maka pelan-pelan terasa dekat dan akrab. Memang sulit memulainya, tetapi begitu indah jika bisa menundukan ketakutanitu
  3. Jernihkan pikiran dan tenangkan hati. Semakin beban ini hilang dari pikiran, dan semakin kecil ganjalan hati, maka semakin ringan kita menghadapi kesulitan dan ketakutan. Terasa ringan dan ikhlas, bahkan kematian pun tidak menakutkan. Semakin kita merasa tidak punya apapun yang bersifat dunia, seakan tidak ada yang ditakuti selain yang mempunyai diri kita ini.
  4. Berdoa sebelum memulai. Doa dan kepasrahan menjadi kekuatan yang dahsyat yang mampu meluluhlantakan ketakutan yang menghantui. Doa menghadirkan kekuatan Tuhan seakan dekat dengan kita.

Ketakutan terbesar adalah takut pada diri sendiri :)





15 Comments to “Melawan Ketakutan dengan Pasrah”

  1.   Yogi | November 3rd, 2008 at 2:51 am

    kalau naik motor aja gimana ? aman yah kayaknya ?
    tapi berapa tahun yah baru sampai di lokasi
    hahahahahaha

    salut boss buat ke ikhlasan dan kepasrahannya pada yg bikin hidup

    kalo ganti pesawat gimana boss ?

  2.   windrey | November 3rd, 2008 at 8:21 am

    terkadang saat sdh mau take off.. pasti trasa gusar.. mana sendri lage.. ga tau dech mo pegang tangan sapa..

    tp pastinya berdoa dulu.. akhirnya udah mendarat baru dech tenang.. khawatir itu lama2 bisa ilang juga..

  3.   shanti | November 3rd, 2008 at 9:19 am

    Alhamdulillah.. akhirnya bisa mendarat dan bisa menceritakan kronologisnya ya om…
    Yang pentiing pasrah dan kembali lagi pada Tuhan apapun yang akan terjadi.

  4.   harmanto | November 3rd, 2008 at 10:47 am

    Haha..sama dengan pengalamanku saat dinas luar ke Lampung, padahal itu adalah penerbangan perdanaku dengan pesawat, menggunakan CN 235 yang bermandikan uap…

  5.   dandoenk | November 3rd, 2008 at 11:10 am

    alat transportasi di bangsa ini memang belum memberikan kenyamanan dan rasa aman secara maksimal, baik itu darat, laut maupun udara.

    tapi ada baiknya juga, kita merasa lebih dekat lagi kepada Tuhan di saat-saat seperti itu, karena terus-terusan berdoa untuk keselamatan :D

  6.   mohamad handy | November 3rd, 2008 at 12:18 pm

    memang kewajiban harus dilaksanakan, saya juga mengalami hal yg sama beberapa kali, takut pasti ada kan masih manusia wajar dong..,tapi saya selalu mengingat sebagai penguat hati bahwa ajal Alloh yang menentukan….kalau sudah ditakdirkan berarti itulah suratanNya, pasrah Itulah yang bisa kita lakukan.

  7.   rifki | November 3rd, 2008 at 1:15 pm

    di balik kejadian ini pasti ada hikmahnya..
    tapi udah dapet blum hikmahnya?hehe

  8.   azlankadir | November 3rd, 2008 at 3:20 pm

    transportasi negeri ini memang layak untuk dikritisi tentang keselamatan penumpang, kalau sudah begitu kondisinya,hanyalah kepada Allah keselamatan dan tempat kembali……..

  9.   uni | November 3rd, 2008 at 3:58 pm

    takutlah hanya pada Sang Maha Menguasai, pasrahkan segalanya hanya PadaNya, ^_^
    InsyaAllah perasaan khan selalu tenang

  10.   decidenotdecide | November 3rd, 2008 at 8:17 pm

    wew koq saya jadi ikutan tegang yah.. padahal cuman baca tulisan.. brarti tulisan Mas Ari bisa menggambarkan dengan baik keadaan dan suasana waktu..

    saya sih klo jadi mas Ari mending naik bis ajalah.. bner deh.. gpp lah lampung toh deket ini..

  11.   easy | November 4th, 2008 at 9:31 am

    kalo aku entah napa ga pernah takut kalo naik pesawat :D

    malah Ibu yang selalu cemas kalau aku bepergian kemana2 hehehhe

  12.   maureen80 | November 4th, 2008 at 1:38 pm

    kekeeke… mas, udah perlu beli jantung cadangan tuw… syapa tau pas copot di pesawat gak repot nyari2 lage..
    :D

    well, parahnya kondisi pesawat2 yang di pakai maskapai d indonesia ini membuat wajar siapapun takut dan cemas bila bepergian menggunakan jalur udara. maskapai paling lama sekalipun di indonesia ini toh tetep aja punya catatan yg buruk, apalage maskapai yang seumur jagung??

  13.   Penerbangan yang menakutkan « Catatan kecilku | February 27th, 2009 at 6:52 pm

    [...] Cerita sejenis dengan kondisi pesawat, penerbangan, jam dsb, bisa dibaca di sini. [...]

  14.   Sarjono | February 27th, 2009 at 6:56 pm

    Saya minggu lalu juga mengalami hal yang sama.
    Dengan pesawat dan penerbangan yang sama.

    Maaf, website-nya saya link ke sini:

    http://sarjono.wordpress.com/2009/02/27/penerbangan-yang-menakutkan/

    wassalam,
    sarjono

  15.   nuhman | May 16th, 2009 at 12:06 pm

    terima kasih atas cerita yang telah disajikan, memang benar sesuatu yang paling berbahaya itu bukan lah hal yang benar-benar berbahaya melainkan itu adalah ketakutan yang bersumber dari batin kita sendiri. dan hal itu kini sedang kuhadapi
    aku berharap aku bisa menghilang kan rasa takutku dan sifat pecundang ini dengan kalimat LA HAULA WALA KUWATAA ILA BILLAH

Leave a Comment

jika anda melihat tulisan ini, aktifkan css anda