Korupsi, Main Bola dan Kenapa Korupsi

Berbicara korupsi, saya teringat diskusi dengan anggota KPU periode lalu yang berperan menghantarkan pemilu 2004 yang diangap pemilu paling demokratis pada reformasi. Saat itu, beberapa anggota KPU diperiksa atas dugaan korupsi pada pengadaan kertas suara dan pengadaan barang/jasa keperluan pemilu.Sebenarnya diskusi berlangsung sangat ringan bahkan tidak berkaitan dengan politik. Hanya ngalor ngidul karena diantara kami sering berinteraksi di kantor dimana saya bekerja. Bahkan sering kali diselingi dengan canda tawa dan saling mengejek. Biasalah kongkow!

Ditengah diskusi kami, saya menanyakan sesuatu yang mengejutkannya. Karena dia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang secara kualitas berat tetapi disampaikan dalam suasana santai tapi to the point.

Mas sampai saat ini sampeyan kan bersih. Tidak dikait-kaitan dengan masalah korupsi itu. Dan saya juga tahu track record sampeyan. sebetulnya mas *** kecipratan uang korupsi itu gak sih?”, demikian tanyaku.

Waktu itu memang sangat gencar diberitakan korupsi di KPU dan beberapa anggotanya sudah menjadi tersangka. Mendapat pertanyaan yang menohok dan tidak sopan seperti itu, dia hanya tersenyum. Hmm.. seperti biasa, dia selalu terkontrol.

Rie, ibarat kita bermain bola di tengah hujan lebat. Semua basah kuyup dan terkena lumpur. Baik pemain, wasit, hakim garis, bahkan mungkin pelatih, pemain cadangan atau malah penontonnya. Tetapi yang membedakan adalah seberapa basahkah baju mereka? Seberapa kotorkah baju mereka kena lumpur lapangan. Ada yang dari ujung rambut sampai kaki kotor sekali. Ada yang terkena lumpur meski sedikit. Tapi ada pula yang hanya basah tidak kena lumpur.

Filosofis dan diplomatis. Kawan satu ini memang kalau bicara serius sangat tertata dan tersetruktur dengan suara yang lembut. Mendengar jawaban itu, saya hanya mengangguk-angguk. Saya tidak berusaha bertanya lebih jauh. Saya juga punya hati nurani untuk mengerti bahwa dengan jawaban itu sudah cukup.

Saat ini, saya mencoba menganalogikan jawaban kawan anggota KPU itu, dengan apa yang bisa saya fahami. Saya mencoba mengerti korupsi dari apa yang saya lihat, rasakan dan alami di sekitar kita. Tidak ada kompromi dalam pemberantasan korupsi. Tidak ada pembenaran apapun terhadap uang, barang dan apapun hasil korupsi. Hanya saja, saya mengajak melihatnya dengan cara lebih jernih dengan mata analisis yang seimbang.

Saya hanya mau mengatakan korupsi itu seakan telah menjadi kebiasaan dan tidak jauh dari perilaku kita sehari-hari. Secara tidak sadar atau bahkan dengan kesadaran penuh, banyak orang, mungkin juga termasuk saya, melakukan itu. Atau sekurang-kurangnya terjebak dan terpaksa melakukannya. Sekali lagi ini bukan pembenaran.

Di sekitar kita, ada yang melakukan korupsi kecil, sedang atau besar. Jika saya perhatikan ada latar belakang dan motif yang berbeda. Sekurang-kurangnya yang pernah aku perhatikan. Alasan atau motifnya mereka melakukan korupsi, diantaranya :

  1. Korupsi yang disebabkan merasa tidak cukupnya pendapatan. Atau istilah umumnya korupsi karena kebutuhan. Korupsi model ini memang banyak dilakukan karyawan dengan penghasilan kecil sehingga tidak mencukupi kebutuhan hidup. Dengan dalih penghasilan kecil, maka menjadi pembenaran untuk melakukan korupsi. Modusnya sangat banyak dari pungli, mark up, atau malah memotong anggaran keuangan dan lain sebagainya.
  2. Korupsi karena sistem. Korupsi ini jenis ini terlihat seolah-olah bukan menjadi korupsi karena biasanya di back up dengan peraturan atau keputusan pejabat yang berwenang. Misalnya pejabat level bawah yang mendapat perintah dari pejabat diatasnya. Secara struktural yang berjenjang menyebabkan korupsi itu sulit sekali dihindari. Bahkan karena sistem penganggaran negara yang memungkinkan korupsi. Contohnya saja sistem penganggaran RKAKL yang saat ini dijalankan dimana semua kegiatan Departemen berupa penganggaran perjalan dinas.
  3. Korupsi karena serakah. Korupsi ini dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai jabatan dan kewenangan tinggi. Dilakukan pula oleh orang yang berpenghasilan tinggi. Sebetulnya tanpa korupsi mereka sudah tercukupi kebutuhannya, tetapi merasa kurang sehingga mereka korupsi. Dmikian juga semakin tinggi jabatan dan kewenangan menjadikan dia bisa leluasa melakukan korupsi.

Mungkin ada alasan lain. Tetapi dari tiga motif ini saja cukup menggambarkan kepada kita tentang alasan korupsi itu sendiri. Lalu bagaimana kita menyikapi koruptor-koruptor dengan motif yang berbeda-beda ini. Saya cenderung melakukan pendekaan yang berbeda. Tentu saja korupsi yang dilakukan terpaksa karena himpitan ekonomi masih bisa dimengerti. Beda jika dibandingkan dengan korupsi karena serakah. Tentu saja harus dihukum seberat-beratnya. Sekali lagi ini bukan pembenaran. Bukan bentuk eufemisme terhadap tindakan dan pelaku korupsi.

Saya mau katakan, korupsi harus diberantas atau minimal selalu ada usaha untuk mengikisnya. Tetapi pencegahan terhadap korupsi juga mesti dilakukan secara simultan. Menjadi sesuatu yang kurang berarti jika kita melakukan pemberantasan korupsi sementara akar penyebab korupsi tidak tersentuh. Semua dilakukan secara serius, berkesinambungan dan sistematis.

Dan cara ampuh untuk memberantas korupsi, meminjam istilah yang dipopulerkan oleh Aa Gym, adalah 3M. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, dan Mulai sekarang juga. Semoga !


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • TwitThis
  • Print this article!
  • Google
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Yahoo! Buzz



17 Responses to “Korupsi, Main Bola dan Kenapa Korupsi”

  1.   anny on November 8, 2008 9:44 am

    Memberantas korupsi bukan hanya tugas KPK tapi seperti yang kata Aa Gym itu 3 M setujui banget :)
    Mulai dari diri sendiri
    Mulai dari hal kecil dan
    Mulai dari sekarang

    Termasuk jangan pake fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi iya kan?

    arie> ngaku ya mbak???

  2.   raksawardana on November 8, 2008 10:05 am

    Saya percaya pejabat yang korupsi rata-rata hidupnya tidak bahagia.. Atau meskipun kelihatan bahagia tapi rata-rata anak2nya amburadul karena koruptor memberi makan keluarga dengan rizki yang tidak barokah.
    Saya juga pernah mendapat proyek dari seorang pejabat koruptor, awalnya saya merasa pejabat ini kok baik sekali dengan memberi uang kepada orang begitu mudah. Ternyata dia banyak uang karena korupsi, dan proyek yang saya terimapun tidak berjalan lancar. Mungkin ini yang dimaksud dengan kebagian rejeki hasil korupsi.
    Semenjak itu saya kapok dapet job dari koruptor. Sekarang pejabat tersebut sudah ditangkap KPK..

    arie> wah ini baru artis mantab :)

  3.   easy on November 8, 2008 10:14 am

    selain dengan 3M coba juga dengan cara 3D,
    dilihat, diraba, diterawang :D

    arie> wakaka..lies suka di-3D !!!

  4.   dyuniar on November 8, 2008 10:15 am

    ternyata sulit Ya mendefinisikan korupsi,,,

    arie> gak usah repot2 didefisinikan niar, tapi bisa dilihat dan dirasakan :)

  5.   dandoenk on November 8, 2008 10:16 am

    korupsi sangat teramat sulit untuk dihilangkan,selama manusia masih merasa kurang secara materi untuk memenuhi kebutuhan hidup, jika pemerintah & parlemen masih membuat sistem yang cenderung “mengijinkan” untuk korupsi, dan masih ada saja orang serakah seperti 3 hal tsb di atas. Dan itu tetap akan ada selama masih ada yang namanya kehidupan :D

    inget, korupsi waktu jam kerja….!! basah juga kan, meski gak sebegitu basah :D

    arie> wakkaka aku gak bisa bayaingin om dadung klo lagi basah kuyup :P

  6.   suamimalas on November 8, 2008 10:20 am

    Menurut saya ujungnya sih tetap sama mas, karena merasa tidak cukup.

    Dulu sih saya belajar dalam kejahatan itu ada yang namanya reason ada yang namanya rasionalisasi.

    Dalam kenyataannya sangat sulit membedakan keduanya. Tapi yang paling mudahnya adalah Reason itu datang sebelum ada tindakan sementara rasionalisasi itu datangnya setelah ada tindakan.

    Nah, kalau di telaah lebih lanjut, dalam kasus korupsi itu reasonnya cuma satu, yaitu perasaan tidak cukup. Ini bisa menghinggapi mereka yang memang miskin, mereka yang serakah dan mereka yang berada dalam sistem.

    Jadi perbaikannya harus jauh mendalam dengan membangun perasaan cukup di tengah masyarakat.

    arie> iya. qonaah, merasa cukup dg apa yg diperoleh dan mensyukuri nikmat.

  7.   harmanto on November 8, 2008 11:49 am

    Wah mending jadi pemain cadangan aja deh krn kalo udah dilapangan pasti sama basahnya, kalo masih hujan disuruh masuk ke lapangan.. ogah ah :D

    Tambah satu lagi nih. korupsi karena adanya kesempatan “korupsi terjadi bukan karena niat dari para pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan, maka waspadalah…waspadalah… ”

    arie> waspada dan jauhi :P

  8.   cebong ipiet on November 8, 2008 12:22 pm

    aaa saya masih korup fasilitas internet kantor eheheheheh kecipratan lengan baju doang

    arie> ntar lama-lama nyebur deh, jd basah semuanya :P

  9.   biru on November 8, 2008 3:49 pm

    ‘cara ampuh untuk memberantas korupsi, meminjam istilah yang dipopulerkan oleh Aa Gym, adalah 3M. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, dan Mulai sekarang juga’
    Setuju!!
    makanya biru ga mau Titip Absen dan menyontek di kampus meskipun memungkinkan, karena saya kecurangan2 kecil sseperti ini akan membuat saya terbiasa dengan kecurangan yang lebih besar nantinya kalo saya dah jadi menteri.. :P
    katakan tidak kalo tidak dan ya kalo ya, selain itu berasal dari si JAHAT!

    arie> mahasiswa yg jujur. calon pemimpin masa depan :)

  10.   zfly on November 8, 2008 4:27 pm

    korupsi seperti kita dan bayangan.
    kita berusaha menjauhi, ehh… korupsinya yang ngikutin terus…
    yap… pada akhirnya benar kata Bang Napi.. terjadi karena ada niat dan kesempatan.
    Bukan begitu, saudara ku?

    arie> yup, anda benar saudaraku :)

  11.   decidenotdecide on November 8, 2008 4:53 pm

    klo boleh nambahin… yg ke- 4 Korupsi yang hanya Niat.. ini di karenakan memang tidak ada yang bisa dikorupsi baik dari segi kesempatan(jabatan kekuasaan) maupun dari segi materialnya.. contohnya adalah pelaksana paling ujung dari sebuah proyek.. kuli, office boy, cleaning service.. apa yang mau di korupsi?

    arie> selalu ada kesempatan, saudaraku. cuma tidak semua orang bisa menahan utk tidak korupsi. godaannya terlalu berat kawan. berat sekali :)

  12.   Eeta on November 8, 2008 6:36 pm

    Korupsi ??? Mmmhh..

  13.   putrimalu on November 8, 2008 8:37 pm

    terus terang pak anjari, saya juga sering korupsi koq tapi ga korupsi yg disebutkan diatas kalo saya sih paling korupsi jam kerja aja, masuk jam 9.00 dtg jam 9.30 pulang jam 17.00 sebelum jam pulang dah kabur duluan….he..he.. abis rumahnya jauh sih…..

  14.   maureen80 on November 9, 2008 12:27 am

    eyang juga korupsi… hayooooo… korupsi waktu…. kekeke… ayo eyang, kita ceting lage siyang2… bikin confrence, pasti seru dehh eyang..
    weks, awas gigi palsunya copot eyang… :D

    arie> gak ada sopan2nya ma orang tua. kualat br tahu rasa :P

  15.   Anak KampuNK on November 9, 2008 6:47 am

    Dah jadi SanTrinya Aa Gym brpa tahun mas,,hihi …bener2 bijak bawaanya,,hihi ,,,

    Bener bgt memang 3M itu ..

    saL4M ..

    arie> he.he.he… bukan cuma santri tetapi juga pengaggumnya. :)

  16.   azlankadir on November 10, 2008 10:59 am

    jagalah hati (sorry pinjam lagu Aa Gym)
    kalau sudah hati bersih, insyaAllah jauh dari korupsi…

  17.   naufalaziz on November 11, 2008 5:28 pm

    Mending nonton bolanya dari rumah (tari tv) aja mas kalo gitu..hehe.. btw, yah, emang gitu adanya mas, hasil pantauan saya dari tempat yang “becek” menurut masyarakat kita, yang namanya gituan emang masih ada aja, tapi gak “segalak” dulu. Korupsinya mungkin berangsur mulai pudar, tapi kolusinya itu lho yang masih. meski begitu saya melihat perubahan, jika dulu dilakukan “berjamaah” (tersistem) kini dah mulai solo aksi, So..tetep ada perbaikan to.. ;-)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind