Golput (juga) Pilihan
Menyambung obrolan minggu lalu, Mas Bambang menyatakan tidak percaya kalau aku memilih golput waktu pemilihan presiden dan pilkada Gubernur Jakarta. Karena menurut seingat dia, aku juga datang ke tempat pemungutan suara dan masuk ke bilik suara sehingga menurut dia aku pasti tidak golput.
Mas, kalau golput itu kayak aku, pas coblosan aku tidur aja dirumah, begitu katanya
Loh, emang sampeyan yakin aku nyoblosnya benar pas datang ke TPS?. Lah semuanya tak coblos kok. Ini yang kumaksud nyoblos bertanggung jawab, kataku. Kawan-kawan yang ada di obrolan warung gado-gado itu tertawa.
Lagian aku nyoblosnya gak pake paku, tapi pake tangan. Jadi pasti batal tuh suara,
Tertawanya pada makin keras. Rasanya lega bisa mentertawakan pemilu dan pilkada yang sepertinya tidak membawa perubahan berarti pada orang-orang kecil seperti yang hadir di warung gado-gado ini.
Mas, apa sih sebabnya sampeyan itu golput? Kan sampeyan itu dulunya pengurus partai. Dulu bagi-bagi kaos, kemarin kok tidak ada kaos atau bendera gratis? Tanya Lek Sarwadi serius.
Loh, justru karena aku itu mantan aktivis partai makanya golput. Wong aku itu tahu siapa yang sebetulnya sampeyan pilih itu, kataku ceplas ceplos seperti tanpa beban.
Mendengar jawabanku yang langsung tanpa babibu seperti membuat ketawa kami menjadi lepas. Tidak sadar malam sudah merangkak tengah malam.
Tanpa menunggu lama, kemudian aku menyambungnya dengan cerita dahulu ketika masih menjadi pengurus partai politik. Bagaimana usaha yang dibangun bersama kawan-kawanku akhirnya terbengkalai disebabkan mereka sibuk menjadi calon legislatif. Padahal menurutku mereka itu belum pantas menjadi calon legislatif secara kualitas dan kompetensi. Apalagi aku juga tahu apa motivasi beberapa kawanku, karena memang sudah lama mengganggur. Jadi anggota DPR itu seperti lowongan kerja.
Terus itu mas, kok ketua Partai ***** menetapkan anaknya dan istrinya jadi caleg. Padahal kan tidak jelas kontribusinya ke partai, potong Bang Hasan.
Oh iya. Itu dah lumrah. Gak usah marah atau misuh-misuh. Biarkan saja, itu hak mereka. Nah, hak kita juga untuk tidak memilih mereka klo emang tidak suka, kataku menjawab.
Eh, ada yang tahu gak ******* . itu siapa sih? Tadi aku baca spanduk di gapura depan sana, dia menjadi caleg no. 1, , tiba-tiba Iwan menyela.
Yang ditanya diam saja. Malah Bang Hasan yang memang sudah antipati dengan pemilu langsung minum air jahe untuk tetes terakhir kalinya. Rupanya orang-orang yang hadir itu juga tidak tahu siapa dia. Sama juga dengan orang lain yang mencalonkan menjadi caleg yang dikenal hanya sebatas spanduk, pamflet dan selebaran. Tidak jelas apa yang telah diperbuat buat warga sekitar. Jangan-jangan mereka tidak sempat mengaca diri, apa ya pantes mengajukan diri menjadi anggota legislatif.
Motivasinya sepertinya hanya mencari pekerjaan. Yang dicari hanya kekuasaan semata. Dengan itu semua, akan diharapkan datang kesempatan dan harta yang melimpah. Halah, basi saja kalau mereka memikirkan rakyat kebanyakan, memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara. Kebanyakan yang dipikirkan ya urusannya sendiri, keluarga dan kroni-kroninya. Jadi sebenarnya mereka ingin jadi penguasa bukan menjadi pemimpin.
Sudah tidak usah muluk-muluk. Tetangga kita kan anggota DPRD. Apa ada yang berubah dengan warga sekitar. Si Iwan tetap saja nganggur, padahal dia tuh yang siang malam membantu waktu kampanye. Jalan di kampung kita ini agar lubang-lubangnya ditutup. Pas renovasi mushola kemarin nyumbang juga gak beda jauh dengan warga lain, Lek Sarwadi menyela.
OK. Klo emang seperti itu, apa cukup alasan untuk tidak nyoblos. Golput gitu?, kata Ujang, aktivis Partai **********, partai kutu kupret yang baru lolos verifikasi.
Gak usah, sok formal gitu dik. Kan kita juga gak tanya apa mereka cukup beralasan waktu nyalonin anggota DPR?, kataku
Banyak alasan untuk membenarkan golput sebanyak pula alasan untuk tidak golput. Akan ada suatu pembenaran sesuai dengan kepentingannya. Justru orang-orang yang memilih golput dengan kesadaran dan kritis menyikapi keadaan adalah orang-orang yang sebenarnya peduli dengan bangsa ini. Kalau ada asumsi bahwa semakin banyak golput maka kemungkinan terpilihnya orang-orang yang tidak berkualitas, itu juga perlu tidak dengan bukti yang jelas. Karena memang kenyataannya banyak caleg yang belum jelas kualitas dan track recordnya.
“Jadi gimana mas, pemilu tahun depan golput juga? Tanya mas bambang
“Wah, kalau aku gak usah ditanya. Pasti itu. Tapi aku gak mau propaganda, ngajak orang untuk golput. Golput yang bertanggung jawab.
Bagiku golput itu juga pilihan. Memilih untuk tidak memilih caleg yang ada. Selama mereka tidak jelas track recordnya, tetap saja aku juga golput, kataku lagi
“Aku juga gak nyoblos kok mas,: kata Ujang, aktivis Partai *******. Semua yang hadir bengong. Aneh, aktivis partai kok tidak nyoblos. Semua mata tertuju kepadanya.
“Ya, emang gak nyoblos lah. Pemilu tahun depan kan nyontreng, tidak nyoblos lagi,” katanya sambil cengar cengir.
“Huuuuuuuhhhhh,” teriak orang-orang berbarengan
Filed under politika |
29 Responses to “Golput (juga) Pilihan”
Leave a Reply









Aku milih aja ah, kan sayang punya hak suara gak digunakan..
pertanyaannya
dari wacana di atas, yang menjadi pokok ppikiran pada paragraph ke 4 adalah???
Aku setuju dengan perkataan bahwa calon legislatif adalah “lowongan Kerja” baru untuk para penganggur..dan itu emang kenyataan kita temui para calon legislatif termotivasi utk mencari lahan kerja yang katanya lebih empuk. Dari segi kualitas…NO COMMENT,
Jadi pantaslah saat ini kita melihat para Dewan terhormat mempunyai sifat yang memalukan…
peace…
yans
http://yans.blogdetik.com
eeeyyyaaaanngg… kalo eyang masih aktip di partei pastinya aku sebage cucu eyang akan coblos deehh eyang sampe ke sumsum tulang pokoknyaaaaa….
klo gitu aku ikutan eyang juga ahk… golput.. mending bikin postingan pas lage pemilu… kekeke…
aq dah boleh nyoblos ga yach.. hwehw
golput juga sebuah pilihan/opini yg harus dihormati
Pejuang=medan perang
Ibu=rumah tangga
Pemilih=pemilu
Golput=?????????????
aku lo prnh golput sich sblmnya…tapi yg akan dtg blm tahu jg,alnya partai thu byk skrg..bikin binun
Aku mau nyoblos pintu dgn ilmu sekelebat bayangan:)
Tahun ini aku akan memakai hak pilihku sebaik-baiknya..
maklum taon kemaren enak-enakan nyimeng ma temen se-kostan…
tak coblos pake apa ya.???
mmm…
numpang boleh kan…???
http://addicted2thatrush.blogdetik.com/2008/12/18/pak-tani-dan-si-penebar-senyum-jelang-pemilu/
hmmm… setuju, bila caleg2 yg mencalonkan diri kurang berkenan di hati, yups lebih baik golput ^_^
ehem.. ehem … aku gak pernah golput sih .. hehehe … tahun ini pun kalo “dia” memang di calonkan aku pastikan pilih “dia”
hehehehe … perubahan akan selalu ada ….
klo saya blm pernah golput tuh….
sayang, pemilu cuma 5 thn sekali kalo ga di pake sebaik-baiknya. kita sebagai pemilih harus cerdas memilah dan memilih, cari info para caleg terutama para caleg incumbent kiparhnya selama ini gimana?? dari sekian banyak calon pastilah masih banyak calon yang baik bekerja untuk rakyat, tidak KKN dan Korup.
Selamat memilh dengan bijak.
Setuju, kalo kita gak tau background dan identitas si caleg lalu main coblos aja, sama aja dengan beli kucing dalam karung, bener gak mas?
ntar kalo asal nyoblos, trus yg kita coblos ikut mensengsarakan rakyat, kita ikut berdosa ngga ya?
mending coblos caleg yang terang2an ngasih uang sebagai sogokan untuk nyoblos gambar dirinya. setidaknya dia sudah melakukan sedikit pengorbanan dengan memahami keperluan ’sementara’ orang banyak.
sebenarnya GOLPUT suatu kesalahan mas arie, tdk pakai pembenaran apapun, tapi itu berpulang kepada masing2 individu bagaimana cara menyikapinya?kalau saya akan lbh baik pilihlah sesuai selera anda bukan?
KALAU MAS ARIE BAGAIMANA NICH….????
-dari saungku003-
Aq udah 3x gak ikut pilkada di jatim karena cuma dpt krt pemilih tp aku nya ada di daerah laen.
hmm.. mas… politik lageee… politik lageee….
aku tetep pake hak suaraku lah…
partai golput ada gak ya
Y udah kalau besok g Nyoblos aku Conteng Smua boleh ga ya? hihihi …
memilih lebih baik drpd tidak memilih samasekali..
sayang bgt,kita punya hak untuk memulai perubahan yg lbh baik tp tdk kita gunakan..apalagi skrg byk akses utk mengetahui background siapa yg akan kita pilih nanti..selamat memulai perubahan!
Kalau milih kadang juga wakil rakyatnya suka semena2 klu udah jadi wakil rakyat,,bikin bete,,
Apa mending Golput ya?
Wew..
Golput..
Memang juga pilihan..
Bila tak menemukan pilihan yang pas..
Tapi..
Golput seperti apa..
Apa hanya tak mau datang nyoblos..
Ato tetap datang tapi ndak nyoblos sama sekali..
..
Bila golput yang tetap datang..
Tapi ndak nyoblos alias abstain..
Kalo jumlahnya golput semacam ini..
Sedikit, tak ada artinya (rugi)..
Tapi kalo jumlahnya..
50persen+1 dari manusia Indonesia..
Yang berhak suara..
Itu bisa membuat pemenang pemilu..
Dianggap tidak mendapat kepercayaan rakyat..
Secara hukum..
..
So, mau pilih gimana..
sama seperti mas arie…
saya juga mantan pengurus partai
dan saya rasa golput adalah pilihan (terbaik)
[...] bukan warga negara apolitik. Dan bukan pula buta politik. Belum pernah golput, sepanjang aku mempunyai hak pilik sebagai warga negara. Tetapi sejak rencana pemilu tahun 2009 [...]
[...] dalam menggunakan haknya tersebut. Selayaknya harus dihargai sebagaimana halnya menghargai pilihan warga negara lain dalam memilih partai politik. Menyikapi fenomena golput tidak cukup sekedar [...]
This is a wonderful article, very well written.
New York Yankees Jerseys