belajar dari bencana

October 9th, 2009  Tagged , , ,

kalau saja gempa punya juru bicara,maka beliau akan berkata bahwa gempa saat ini diadakan masih dalam skala yang cukup terkendali dengan pertimbangan dan kebijaksanaan yang penuh agar manusia masih bisa melanjutkan upaya mengumpulkan butir-butir zarah kebaikan sebagai khalifah di bumi, sebelum gempa-gempa berikutnya yang menerbangkan gunung, menumpahkan laut dan merobohkan langit [kenduri cinta]

siklus-bencanainilah cerita negeri yang tak luput dari bencana. bangsa yang tak juga lepas dari genggaman musibah alam. dan jika disimak dengan fikiran jernih dan hati bersih, sesungguhnya manusia sebagai bagian dari alam ini, memberikan kontribusi terbesar terhadap bencana alam ini. saya mencoba mengingat musibah besar yang masih tersangkut dalam ingatan. tsunami aceh dan nias, gempa jogja, tasikmalaya dan padang, jebolnya situ gintung, banjir bandang yang rutin terjadi, pesawat jatuh dan hilang, kapal laut tenggelam, tabrakan kereta api dan angkutan umum.

teror bom yang menebarkan aroma kematian dan ketakutan diantaranya di bali, kedutaan australia dan hotel marriot. kecelakaan lalu lintas yang hampir terulang pada arus mudik lebaran. kemiskinan, pengangguran bahkan kematian dalam antrian sembako dan pembagian zakat. itu belum seberapa. iya, belum seberapa. masih panjang deretan kejadian yang dapat dikategorikan bencana. dibongkarnya pabrik sabu-sabu dan napza yang terbilang terbesar di tingkat regional. masih banyaknya bangunan sekolah yang roboh dan putusnya anak-anak usia sekolah disaat anggaran pendidikan yang melimpah. kenaikan harga kebutuhan pokok disaat kemampuan daya beli masyarakat yang tak lagi dapat menjangkau. perilaku koruptif yang dipertontonkan para pejabat publik dan tindakan kapitalisme yang dilakukan para para pengusaha tanpa mempertimbangkan rasa kemasyarakatan. proses demokrasi yang teramat mahal, bertele-tele dan menghabiskan energi seluruh negeri. masih panjang lagi daftar bencana ini. tapi saya cukupkan saja. yang patut dicatat, bencana itu selalu berulang. terjadi lagi pada waktu lain bahkan kadang tak lama berselang. tetapi mengapa bangsa ini tak juga belajar?

bangsa ini termasuk saya tentunya, tak juga mampu mengambil hikmah dari bencana ini. disetiap bencana kembali terjadi, tetap saja kedodoran dan gelagapan bangsa ini menghadapi. bahkan untuk bencana yang bisa diprediksi dan diantisipasi, tetap saja tak berhasil menanggulangi. seakan bangsa ini tak mampu berbuat apa-apa, bengong!. apa yang dapat dilakukan seakan tak punya arti yang lebih bernilai dibandingkan dari bencana itu sendiri. dan selalu menyisakan cerita-cerita miring terhadap perilaku pemegang amanah bantuan bencana. tak sedikit dari mereka, menjadi berita karena menjadi tersangka atau terdakwa. simpati dan aksi dermawan sesama tak diimbangi oleh kesiapsiagaan pihak yang berwenang dan berkemampuan untuk menanggulangi bencana.

contoh mutakhir yang terjadi pada gempa tasikmalaya dan padang. diberitakan berbagai media, masih banyak korban yang tak tersentuh bantuan. sedangkan simpati dan aksi dermawan masyarakt terus mengalir tanpa henti. sungguh ironi. alasannya selalu bersifat klise, keterbatasan sumber daya, lokasi sulit dijangkau dan kerusakan yang parah. rupanya bangsa ini tak belajar bagaimana menangani bencana sejenis seperti yang terjadi aceh, nias, jogja dan tasikmalaya. padahal alam telah memberikan kesempatan bangsa ini menjadi bangsa yang unggul dalam menangani bencana, jika mampu mengambil hikmah dan mau belajar.

undang-undang yang mengatur bagaimana menangani bencana sudah ditetapkan sejak tahun 2007. namun tak ditindaklanjuti dengan penyiapan perangkat-perangkatnya.berbagai badan penanggulangan bencana sudah terbentuk, namun miskin koordinasi dan operasionalisasi. bahkan pendanaan dari pemerintah dan pemerintah daerah terhadap itu pun sangat minim sekali. yang pasti tak sebanding dengan jumlah anggaran pelantikan anggota dpr beberapa hari yang lalu.

bangsa ini seperti keledai yang jatuh pada lubang yang sama berulang kali. bangsa ini seakan sedang ditertawakan dan dipermainkan oleh alam. kerusakan oleh tangan-tangan manusia distempel bencana alam. berulangkali “diajari” bagaimana mensikapi dan menangani musibah, namun tak juga mahir. malah semakin menunjukan kebodohan dan ketololannya. masih saja bersikap biasa terhadap kejadian luar biasa. bertindak seperti tak terjadi apa-apa, padahal penuh kegentingan dan kegawatan. sungguh benar-benar bangsa yang tak mau dan mampu belajar. belajar dari alam, belajar dari bencana. na’udzubilahhi min dzalik. wallohu a’am bishowab.

robot bukan manusia

lelaki itu bangun dari “pembaringan”. tampak kelelahan tergurat dari wajahnya. badannya terlihat lemah. berdiri sejenak, kemudian memandang sekeliling ruangan. perlahan lelaki itu berjalan mendekati sebuah pintu sebuah kamar. sekilas pandang dia menatap sebuah foto dirinya bersama seorang perempuan dan anak laki-laki. dia menghela nafas dalam kemudian mengetuk pintu kamar berkali-kali. namun tak terdengar jawaban dari dalam, pintu pun masih tertutup rapat. sepi, ruangan terasa lengang. tak berapa lama, pintu lain terbuka dan masuklah perempuan yang cantik dan anggun. perempuan itu tersenyum datar dan menyapa lelaki itu.

surrogates“aku sudah lama tak bertemu kamu. aku ingin mengajakmu pergi dimana tempat hanya ada kita berdua. sudah lama kita tidak “bertemu”. kamu sudah tidak merasakannya?”.
“saya tidak bisa, lagi banyak pekerjaan. lagi pula kita “bertemu” setiap hari”, perempuan itu hanya berekspresi datar. namun dengan suara agak tinggi dia bicara.
“bukan “bertemu” seperti ini yang kuinginkan. tetapi sebagai manusia”, lelaki itu menyahut.
“apa yang kamu inginkan dariku?” kata perempuan itu setengah menjerit dan terlihat kesal.
“aku ingin bertemu istriku,” jawab lelaki itu mengiba
“aku istrimu!”
“tidak. tidakkkkk!” seru lelaki itu sambil sesenggukan akan menangis

perempuan itu terlihat kesal, kemudian berjalan menjauhi sang lelaki dan mendekati kotak transparan seukuran badan manusia yang tegak berdiri hampir menempel di tembok ruangan. dia masuk didalamnya, kemudian berbalik dan klek!. perempuan itu diam mematung, tanpa bergerak sama sekali. lelaki itu duduk sambil menangis tertahan. sementara di dalam kamar yang pintunya tadi diketuk berkali-kali oleh lelaki itu, berbaring perempuan yang terlihat sangat lemah dan pucat. tangannya melepas sebuah alat seperti headset dilengkapi kacamata dari kepalanya. mimik mukanya menunjukkan kesedihan yang teramat dalam hingga dari sudut matanya meleleh tetesan airmata. mengungkapkan duka mendalam yang tergurat di raut muka, perempuan itu pun menangis. hanya dipisahkan oleh tembok, dua orang tadi pun menangis bersamaan meskipun keduanya tak saling mengetahui.

Continue reading »