bayi itu meninggal dunia di depan rumah saya
saya baru saja masuk pintu rumah ketika salah satu pengasuh putri saya mengabari bahwa tetangga depan rumah berduka. bayi mungil yang lahir prematur yang “ditinggalkan” ayah ibunya itu meninggal dunia. saya tidak mengenal, orang tua dan bayi itu, tapi saya tahu kerabat yang tinggal didepan rumah saya tersebut.
malam beranjak jam 22.30 wib, rasa lelah yang mendera dan kantuk yang semakin menggelayut tak saya hiraukan lagi. saya dan istri bertakziah bersama tanpa sempat membersihkan badan atau sekedar berganti pakaian. tadi sempat saya lewat depan rumah duka. beberapa ibu ngobrol seperti biasa yang mereka lakukan. ternyata ada duka, bayi merana itu meninggal dunia.
setelah mengucap bela sungkawa, saya dan istri masuk ke ruangan dimana jenazah bayi disemayamkan. sejenak saya tertegun. kondisi bayi itu sangat memprihatinkan. kecil, kurus kering dan terlihat menderita. usia yang belum genap 5 bulan dengan riwayat kelahiran prematur hingga sempat dirawat selama 16 hari di rumah sakit. konon, sebelum meninggal dunia, fatimah, nama bayi mungil itu sakit diare.
perlahan kuusap kening dan wajahnya untuk menutup sempurna matanya. sejenak tertutup, namun sejurus kemudian kembali matanya terbuka. demikian juga mulut mungil itu tak bisa mengatup. muka dan bibirnya pucat pasi seakan menggambarkan penderitaan yang dialami sebelum ajal menjemput. kerabat yang duduk disebelahku mengatakan sejak tadi sudah dicoba untuk menutup mata dan mulutnyanya namun selalu gagal. mungkin menunggu ayah dan ibunya, begitu dia menjelaskan.
saya bertanya dimana gerangan kedua orang tua bayi mungil ini? ternya sejak kelahirannya ayahnya hanya menengok sekali sedangkan ibunya hanya 3 kali. bayi ini disia-siakan orang tuanya sejak lahir. hanya diasuh oleh salah seorang bibinya yang tinggal beda erte dengan saya. hanya sekali waktu dia datang pada kerabat depan rumah saya ini. dan sekarang bayi mungil itu menghembuskan nafasnya.
kemudian saya keluar ruangan untuk bergabung dengan beberapa kerabat di luar rumah. tak banyak bercakap seakan masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. aura kesedihan dan kebingunan begitu terasa. sedih karena rasa kemanusiaan yang terkoyak menyaksikan bayi yang merana itu meninggal dunia. bingung karena kedua orang tua bayi itu tak juga kunjung datang. ditambah lagi urusan penyelenggaraan jenazah yang tentu saja memerlukan biaya.
malam kian larut, saya mendekati kakek si bayi untuk membicarakan urusan penyelenggaraan jenazah. dia bingung dan khawatir. dia tahu ayah dan ibu bayi tak akan bertanggungjawab dalam urusan jenazah. hanya satu alasanya, tak ada biaya. si kakek juga pasrah, tak sanggup lagi mengurusi biaya penyelenggaraan jenazah. sementara biaya pengobatan selama 16 hari di rumah sakit pun sudah menggadaikan rumahnya yang di sukabumi. sang kakek hanya berkata, jika biaya pemakaman di jakarta tak mampu, jenazah bayi akan dibawa pulang ke sukabumi. meskipun ongkos pulang ke sukabumi pun mengharapkan bantuan dari warga juga.
miris mendengar kata-kata kakek tadi. saya kemudian bermusyawarah dengan dua ketua erte dan beberapa warga. terlihat pengurus erte dan warga pun bingung mesti bagaimana. tetapi saya katakan, beberapa alternatif keputusan harus dipersiapkan dan diambil keputusan pada waktunya. alternatifnya, menunggu kedatangan kedua orang tua bayi jenazah dan keputusan keluarga dimana akan dimakamkan. jika ternyata memang keluarga tak sanggup, maka sudah menjadi fardlu kifayah, warga yang harus mengurus penyelenggaraan jenazah. entah dengan membiayai ongkos pulang ke sukabumi atau dimakamkan di jakata. pengurus erte dan warga menyetujuinya.
tak lama berselang kedua orang tua bayi yang ditunggu datang. lelaki berumur 22 tahun dan perempuan berumur 15 tahun inilah yang menjadi semestinya mengasuh bayi malang itu sejak kelahirannya. mereka hanya menangis menyaksikan anaknya telah tak bernafas lagi. mungkin menyesal atau mungkin juga bingung harus bagaimana. waktu merangkak meninggalkan tengah malam. saya kembali mengumpulkan kakek dan pengurus erte untuk menanyakan keputusan keluarga. seperti telah disampaikan sebelumnya. keluarga pasrah menyerahkan kepada warga menyangkut urusan penyelenggaraan jenazah.
ternyata dana sosial erte tidak cukup untuk membiayai pemakaman. semua yang hadir baik pengurus erte, keluarga atau warga terdiam. tetapi bagaimana pun hamba tuhan yang tidak berdosa ini harus dikebumikan dengan layak. bayi mungil itu sudah cukup menderita dengan tidak dirawat dengan baik oleh kedua orang tuanya. keluarga juga sudah kepayahan dalam keterbatasan dan kemiskinan. dan sekarang sudah dirundung duka dan kesedihan yang tiada tara. tak pantas rasanya menambah beban hidup mereka. dan menjadi kewajiban moral tetangga dan warga mengurus jenazah bayi itu. akhirnya keputusan diambil tengah malam menjelang pagi itu. dan akhirnya saya pamit untuk beristirahat. rasa lelah dan kantuk semakin kuat terasa. hingga badan sudah rebah di kasur, namun mata tak juga terpejam. saya bukan tetangga yang baik karena tak tahu ada warga yang yang memerlukan saya hingga kesedihan itu terasa nyata.
Filed under katahati |
24 Responses to “bayi itu meninggal dunia di depan rumah saya”
Leave a Reply









hikss…hikkss…sedihnya…
tega bener sih orang tuanya ntu…
udah syukur2 dikasih karunia seorang bayi ehh malah disia2in…
sementara diluar sini banyak yang mengharapkan kehadirannya tapi masih belum dikasih..
sebel sama orang kayak gituh.. gak bersyukur.. mau enaknya ajjah.. huhh…
Innalilahi wainnailahi rajiun, turut berbela sungkawa, bayi mungil tak berdosa itu telah kembali kepangkuanNya, kepenciptaNya dijaga bidadari yang setia dan ia tak akan kekurangan kasih sayang.Amien.
mas, buku hadiahnya sudah kuterima lo, thank ya, t-shirtnya kereen, pas lagi (Kok tau ya kalau ukuranku S, hehe). Thanks juga buat blog detik ya.
@lemontea: mereka punya alasan meskipun alasan itu gak akan bisa kita terima.
@amiiin.. oh sudah ya.. tks ya…:D
sungguh pilu melihat kenyataan di depan mata….seperti di ethiopia aja….. banyi dg kondisi kurus kering kerontang , tinggal tulang yg terbalut kulit tipis dgn diameter kurang dari diameter gagang sapu…dengan perut besar membuncit…
teganian orang tuanya membiarkan anaknya spt itu…..
ya Allah ampunilah hamba ini yang telah lalai atas amanah yang Engkau titipkan….
Innalillahi wainnalillahi raji’uun….segalanya berasal dari-NYA dan tentu akan kembali kepada-NYA pula.
yaampun sangat menyedihkan ceritanya…..
Innalilahi wainnailahi rajiun…
masalah kemiskinan belum bisa terselesaikan oleh para Penguasa yang silih berganti sampai saat ini…
nyimak dulu pak, keknya seru nih..
Ngga percaya kalau hal macam ini udah umum terjadi, rasa2nya sudah seperti di negeri dongeng saja, tapi dongeng yang mengerikan.
begitu banyak pasangan suami istri yang mendambakan punya momongan hingga bertahun-tahun dan sudah menempuh bermacam ihtiar, tapi tak kunjung diberi olehNya. eh ini yang dikasih di usia yang sangat muda malah anaknya diterlantarkan….atau justru karena terlalu muda hingga mereka kurang bertanggungjawab…?
Turut berduka, Dan TUHAN punya satu rencana yang baik mengembalikan dia menjadi miliknya. dan itu adlah kehendak NYA
*mas anajari terima kasih, buku matahari timoer nya saya terima dengan selamat
@nomy: iya semoga diampuni
@fans: memang begitulah..
@author: memang mnyedihkan dan menggenaskan
@erza: kemiskinan mendekatkan kpd kematian..
@yansen’ monggo.. Disimak.
@ana: iya sungguh ironis..
@dyah: sptnya ini faktor kemiskinan..
@jumi: syukur deh klo dah diterima.. Kaosnya jg kan?
Thaks 4 share, smoga menjadi pelajaran bagi kami, generasi yg sedang berusaha bangkit tuk memberikan sesuatu bagi bangsa ini. Smoga kisah ini menjadi inspirasi tuk semangat dalam membangun usaha, membuka lapangan kerja dan berbagi dengan sesama, mhn do’anya. Amin.
Mengharukan pa… banyak hikmah yang bisa diambil… Diantaranya bagaimana menjadi orang tua yang semestinya dan bagaimana menjadi tetangga yang semestinya… Oke pa selamat beraktifitas jaga kesehatan…
innalillahi wa innailaihi roji’un..sedih.. sampe speechless..
prihatin… Innalilahi wa innalilahi rojiun, sedihhh… tapi keputusannya bagaimana tuh eyang hasil musyawarahnya??
@cak: makasih kembali kang.. Yah niat saya jg cerita kpd smua orang agar jd pembelajaran.

@ferd: iya fer.. Benar2 merasa disadarkan..
@deps:
@andi: hanya bisa menangis saja.. Trenyuh..
@ts: kesimpulannya jenazah dimakamkan oleh warga dg biaya ditanggung kas erte + penyumbang dr warga.
ternyata ada yang setega itu ya eyang?
semua berpangkal pada kemiskinan….
kemiskinan materi..kemiskinan hati..
sampa kapankah kemiskinan ini akan berakhir???
sedih banget ya…
turut berdukacita…
semangat…
hanya terisak membaca tulisan ini, tak mampu berkoment apa2
cry…tidak dapat berkata kata lagi…
turut berduka cita
sedih deh
orang tuanya masih semuda itu pula