Hati-Hati Tersesat Iklan Kesehatan

14 Dec 2011

Mari kita perhatikan sejenak tayangan televisi. Tak lama muncul iklan seorang dokter atau berperan dokter menyarankan pasta gigi merk tertentu. Di waktu lain, dokter yang juga selebritis mengiklankan produk makanan atau minuman.

Coba pindahkan ke stasiun tv lain. Acara dialog dengan tema herbal atau pengobatan alternatif. Di selingi iklan yang menohok karena berulang-ulang disiarkan, dimana setelahpenyakitnya di vonis dokter harus dioperasi ternyata sembuh dengan pengobatan alternatif tertentu.

Itu belum cukup. Mari dengarkan radio, baca koran dan browsing internet. Bermacam iklan dan publikasi kesehatan menjejali ruang dan waktu kita. Dari obat kuat, pelangsing, pemutih, masalah seksual, penyakit kronis, jantung, kanker, stroke hingga penyakit “mutakhir” yg konon belum ditemukan obatnya. Semuanya bisa disembuhkan, begitu iklannya. Bahkan ada yg berani jamin kesembuhan dan garansi uang kembali. Luar biasa!

Kemudian kita bertanya meski dalam batin; apakah benar iklan itu? Amankah nggak ya? Ada nggak sih aturan “iklan kesehatan” seperti etika pariwara lainnya?

Saya sendiri tidak pernah tertarik mencoba salah satu atau dua bermacam “iklan kesehatan” itu. Pertama, alhamdulillah saya dikaruniai sehat. Kedua, saya tak mudah percaya dengan pengobatan yang belum terbukti secara ilmiah. Ketiga, saya tidak mudah terayu oleh janji manis nan lebay seperti “pasti sembuh garansi uang kembali”.

Di dunia kedokteran atau pengobatan pada umumnya tidak dikenal kepastian kesembuhan dari sakit/penyakit. Yang dilakukan dokter, tabib, mantri atau apapaun namanya hanya sebatas upaya dan ikhtiar mencapai kesembuhan. Artinya tidak ada jaminan pasti sembuh. Kenapa demikian? Karena setiap obat dan terapi dengan takaran yang sama akan bereaksi berbeda pada tubuh setiap orang. Dengan kata lain, jika ada testimoni keberhasilan pengobatan pada seseorang belum tentu memperoleh kesembuhan pada orang lain.

Anda mungkin pernah dengar kalimat filosofis bahwa pada hakekatnya obat itu juga racun. Bukan dalam artian harfiah tentu saja. Namun saya coba fahami, tanpa bukti melalui penelitian ilmiah yang sahih sebaiknya hindarkan melakukan pengobatan dan terapi. Alih-alih menyembuhkan, malah bisa jadi memperparah penyakit yang diderita.

Tentu sebagai orang awam kita kesulitan membuktikan obat dan terapi yang aman itu. Namun sesungguhnya ada cara gampang mengetahuinya. Lihat saja apakah sudah ada izin dari pihak yang berwenang, baik sarana/fasilitasnya maupun orang yang melakukannya. Jika sudah mempunyai izin kemungkinan besar obat dan terapinya sudah teruji. Sebaliknya jika tak berizin atau berizin dari pihak yang tak semestinya berwenang, anda patut tidak meyakini kebenaran “iklan kesehatan” itu.

Oh ya sebetulnya sudah ada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1787 Tahun 2010 tentang Iklan dan Publikasi Pelayanan Kesehatan yang bertujuan agar masyarakat terhindar dari informasi menyesatkan dari iklan layanan kesehatan. Permenkes ini mengatur bahwa iklan dan publikasi dalam berbagai bentuknya tidak boleh melanggar etika pariwara, etika kedokteran dan perumahsakitan serta peraturan perundangan terkait kesehatan.

Dalam dunia iklan dikenal informative dan commercial advertisement/sales promotion. Keduanya mempunyai aturan dan etika berbeda. Menjadi kacau dan abu-abu, jika sales promotion disajikan sebagaimana informatif adv. Seperti disebutkan diawal postingan ini. Bagaimana iklan layanan masyarakat dengan jelas memamerkan produk tertentu. Ini contoh pelanggaran terhadap ketentuan Permenkes 1787/2010 tersebut.

Demikian juga dokter atau peran dengan atribut tenaga kesehatan lain yang mengiklankan sebuah produk barang terutama makanan/minuman, susu dan lain sebagainya. Itu juga tidak boleh baik secara hukum maupun etika kedokteran. Masih banyak ketentuan lain yang dilanggar oleh beberapa iklan kesehatan. Dan yang dibutuhkan adalah penegakan hukum terhadap pelanggar aturan tersebut.

Namun sebagai masyarakat kita seyogyanya memahami dan hati-hati. Jangan sampai tergoda oleh iklan kesehatan tidak jelas jluntrungannya yang cenderung menyesatkan. Jangan sampai terperangkap iklan kesehatan yang menggiurkan. Meskipun oleh artis cantik dan iming-iming obat tradisional herbal serta biaya sukarela. Jadilah konsumen yang cerdas dan kritis. Cek apakah fasilitas dan petugasnya sudah mempunyai izin. Ingat lho, manusia hanya berupaya dan ikhtiar berobat. Kesembuhan itu dari Gusti Alloh. Bukan dari dokter, tabib, ustadz, mbah dukun apalagi ‘iklan kesehatan’ yang lebay!


TAGS


-

Author

Search

Recent Post