Berkelahi Boleh, Tawuran Jangan.

30 Sep 2012

Yang pertama dan terutama, saya turut berbela sungkawa dengan korban tawuran. Kita patut bersedih, bukan saja dengan jatuhnya korban. Tetapi juga perilaku berkelahi massal dan keroyokan yang masih menjangkiti generasi indonesia ini.

Saya jadi ingin berkisah terkait tawuran ini. Dahulu kala, disaat masih sekolah SMP. Ya bertahun-tahun lalu. Teman sekelas saya, sebut saja namanya Slamet, “punya masalah” dengan murid dari SMP lain. Kala itu di kampung saya, “geng-gengan” sudah menjadi trend. Atas nama “kesetiakawanan”, kawan-kawan lelaki satu kelas “ngluruk” alias menyerbu SMP dimana “musuh” Slamet, kawan kelas saya tadi.

Sekitar 20-an orang dengan gaya sok jagoan bareng-bareng naik sepeda menuju lapangan depan SMP musuh. Berhadapanlah 2 kelompok anak-anak SMP. Tanpa babibu, Slamet maju menyerbu ke arah musuh kemudian mendorongnya. Perkelahian pun terjadi. Saling pukul, tendang dan banting. Tapi tanpa senjata, tanpa batu atau pentungan. Hanya tangan kosong.

Sementara, saya dan yang lainnya mengerubungi mereka berdua. Tanpa sadar membuat lingkaran sambil menonton perkelahian. Istilah kami waktu itu “kalangan”. Setelah sekian lama, Slamet dan musuhnya sudah mulai kepayahan. Nafasnya tersengal-sengal. Setelah puas saling pukul dan tendang, keduanya tampak bosan. Terlihat dari saling menunggu memukul duluan.

Perkelahiannya sudah nggak asik lagi. Kami punya melerainya. Kami merangkul Slamet dan membawanya menjauh. Demikian juga musuhnya, diajak kembali ke arah sekolahnya. Ya begitulah, kami bubar begitu saja. Persis bagaimana selesai nonton adu ayam jago, pergi membawa jagonya sambil berkomentar tentang perkelahiannya. Dan perlahan, hubungan Slamet dengan musuhnya tadi berangsur membaik tanpa pernah ada ucapan maaf-maafan. Tapi saya tahu, dalam hatinya sudah saling memaafkan.

Itulah cara kami berkelahi “tawuran” saat usia remaja dulu. Trend waktu itu, ketika ada pihak-pihak bermasalah/bermusuhan pasti sepakat nyletuk,” dikalang wae”. Artinya, berkelahi satu lawan satu tanpa senjata. Sementara yang lain membentuk lingkaran untuk menonton. Tak selalu tawaran “dikalang” ini berhasil, tergantung kejantanan yang saling bermasalah. Jika satu atau keduanya pengecut, biasanya nggak jadi “kalangan”.

Saat itu, saya fahami bahwa berkelahi itu wujud kejantanan dan eksistensi. Justru karena itulah, setiap masalah perkelahian harus diselesaikan sendiri. Bukan keroyokan, bukan tawuran. Karena kalau berantemnya dibantu, malah malu. Kawan-kawan lain bisa membantu dengan menjaga “sportifitas” perkelahilan satu lawan satu dengan tangan kosong itu. Jadi waktu itu, boleh saja berkelahi tetapi lakukan dengan jantan. Tidak main keroyok, apalagi tawuran. Malu tahu!


TAGS tawuran mahasiswa korban tawuran tawuran tewas berkelahi massal kenakalan remaja korban tawuran luka tewas


-

Author

Search

Recent Post