Ini [Baru] Medan, Bung!

Sebenarnya saya tidak menyukai penerbangan pagi hari. Apalagi kepastian keberangkatan ke luar kota itu baru diputuskan malam harinya. Terlalu mendadak. Karena meskipun penerbangan jam 6 pagi, tapi berangkat dari rumah harus jam 4 pagi. Masih mengantuk kan?. Jam 10 malam, saya diperintahkan agar jumat pagi sekali berangkat ke Medan dengan tujuan Tebing Tinggi dan Labuan Batu. Waduh, saya membayangkan perjalanan yang sangat melelahkan!.

betor-medan_anjari.jpgJam 6.30 pesawat Garuda Indonesia take off menuju Bandara Polonia Medan. Setelah pesawat dalam keadaan stabil, saya mulai membaca berita pagi dari surat kabar yang dibagikan di dalam pesawat. Kemudia pramugari pesawat yang ramah (atau pura-pura ramah) menawarkan sarapan pagi. Nah, ini yang saya sukai terbang bersama Garuda Indonesia. Setelah sarapan pagi, mata menjadi berat. Melihat tulisan koran pun mulai membayang. Dan, saya pun tenggelam dalam mimpi.

Sekitar jam 9 lebih sedikit, saya tiba di Medan. Saya dan rombongan sudah dijemput di bandara oleh orang-orang yang berkepentingan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil menuju Tebing Tinggi. Perjalanan akan ditempuh selama 2 jam. Sopir mobil yang saya tumpangi memacu mobil Inova dengan cepat dan sigap. Saya yang berada ditengah saja merasa khawatir. Kadang mobil terasa meliuk ke kanan atau ke kiri. Saya mencoba meminta agar hati-hati. Malah dijawab kalau di Medan begini cara membawa mobilnya. Waduh, selintas saya melihat ke luar. Terlihat ada adu cekcok antara pengendara Betor (becak motor) dengan mobil pribadi. Hmm.. semoga saja tidak terjadi dengan mobil ini.

Continue reading »

I Hate Lion Air

Pernahkan D’Blogger ditunda (delayed) penerbangannya? Berapa lama didelayed? 1 jam, 3 jam, 5 jam 24 jam? Bagaimana rasanya? Sementara D’Blogger ditunggu di kantor untuk meeting bahkan setelah itu harus ke luar kota lagi dalam rangka tugas lain! Huh!, bagiku itu hal yang teramat sangat menyebalkan. Apapun alasannya, emosi akan meninggi dan dongkol setengah mati. Hari Jumat kemarin, penerbanganku Makassar - Jakarta dengan Lion Air mengalami penundaan penerbangan dari jam 09.00 sampai jam 14.00 wit. Itu artinya penerbanganku ditunda selama 5 jam!. Padahal semestinya jam 11.00 wib aku ada meeting dikantor dan jam 15.00 wib harus berangkat ke Bandung.

Ini bukan pertama kalinya aku mengalami penundaan menggunakan Lion Air. Menggunakan Lion Air dengan penundaan penerbangan seakan sudah menjadi rutinitas. Dan delayed selama diatas 5 jam, seingatku sudah kedua kalinya. Selama setengah tahun belakangan ini, setiap melakukan perjalanan menggunakan pesawat udara berusaha menghindari menggunakan Lion Air. Aku berusaha menggunakan Garuda Indonesia. Tetapi perjalananku ke Palu melihat jam penerbangannya seakan mengharuskan aku menggunakan Lion Air, karena tidak ada Garuda Indonesia. Dan ternyata, kekhawatiranku menjadi kenyataan. Aku kecewa untuk kesekian kalinya menggunakan Lion Air.

Alasan penundaan penerbangan itu katanya alasan cuaca, tapi anehnya pesawat lain seperti Sriwijaya Air dan Merpati dapat melakukan pendaratan. Penerbangan Lion Air yang delayed tidak hanya tujuan Jakarta, tapi juga Surabaya, Denpasar, Gorontalo dan Palu. Apalagi jika aku ingat harga tiket yang diberikan Lion Air sangat mahal. Untuk penerbangan Jakarta - Palu dengan connecting flight harga tiketnya Rp 1,81 juta, sedangkan Palu - Jakarta (connecting flight) dengan harga Rp 2,1 juta. Jika dibandingkan dengan fasilias yang diberikan rasanya itu sangat mahal. Penerbangan selama 4 jam tanpa segelas air mineral apalagi makanan ringan. Pelit sekali! Huh!

Continue reading »