Naik Garuda Indonesia Kelas Bisnis

Saya mungkin termasuk opisboi yang mbagusi. Sehari sebelum Detik Community Gathering, saya mendampingi my bigboss ke Kabupaten Solok dan Kota Padang. Menunggu keberangkatan Garuda Indonesia Jakarta Padang jam 6 sore, saya diajak my bigboss beristirahat di Garuda Indonesia Lounge. Bukannya senang, saya malah gelisah. Meskipun bukan tempat yang baru bagi saya, tapi kalau boleh memilih saya lebih suka di ruang tunggu saja. Dapat duduk dengan posisi semaunya. Sementara kalau mendampingi my bigboss harus menemani ngobrol dengan sopan santun sikap dan tutur katanya. Dan yang paling tidak nyaman, saya malu kalau dibayari olehnya. Tapi aku tebalkan muka saja, sekali-kali ditraktir bigboss satu ini.

garuda-indonesiaMasuk di lounge, my bigboss menyodorkan sebuah card-nya kepada kasir. Dia melihat kearah saya, kemudian dengan gaya opisboi, saya bilang bahwa saya cash saja. Memang saya tidak punya credit card atau card lainnya. Dalam hati, kenapa dia hanya mengeluarkan satu kartu? Duh, bos ini kayaknya memang tak berniat mentraktir. Saya pun mengeluarkan uang untuk membayar lounge. Baru saja menikmati dinginnya ruangan, beberapa teguk teh botol dan camilan kue basah, terdengar panggilan dari pengeras suara. Saya dan bos diminta datang ke gerbang pemberangkatan Garuda Indonesia.

Bergegas saya menuju tempat yang disebutkan. Senyum perempuan petugas check in menyambut sambil menyebut nama saya untuk memastikan bahwa saya adalah orang ditunggunya. Kemudian dia menyampaikan bahwa saya dan bos dipindahkan tempat duduknya. Bukan sekedar tempat duduk melainkan kelasnya dari ekonomi ke kelas bisnis. Tanpa tambahan biaya. Kemudian dia bertanya apakah saya bersedia. Tanpa banyak pertimbangan saya menyetujuinya. Saya berfikir, kesempatan langka naik pesawat Garuda Indonesia kelas bisnis dengan harga kelas ekonomi. Sebagai opis boi kecil kemungkinan saya naik Garuda Indonesia kelas bisnis. Meskipun saya sudah dua kali dipindahkan dari kelas ekonomi ke kelas bisnis, dan sekarang adakah kejadian ketiga. Wong cilik munggah dingklik. Tak berapa lama, kertas bording saya sudah berganti warna. Dari warna hijau menjadi warna biru.

Continue reading »

Sepenggal Cerita Opis Boi

Sehari di Solo

soto triwindu solo

soto triwindu solo

Subuh belum menjelang, ketika kecupan hangat istri menemani perjalanan pagi itu [rabu, 18 Feb] menuju Bandara Soekarno Hatta dengan bis Damri dari Terminal Rawamangun. Jam 06.00 pagi pesawat Garuda Indonesia take off menuju Bandara Adi Sumarmo Solo. Langit mendung hingga penerbangan pun seakan menempuh jalanan yang penuh lubang. Tiba di Solo saya dan kawanku sudah dijemput oleh yang punya hajat. Sebelum menuju pada agenda utama, saya diajak untuk mencicipi sarapan pagi.

Sopir dan penjemput mengajak saya ke sebuah warung Soto Triwindu di kawasan jalan slamet riyadi Solo. Sebenarnya sudah menjadi kebiasaan, setiap kali saya ke Solo pasti diajak sarapan soto. Hanya tempatnya ini agak berbeda. Tempatnya nyaman dengan tata ruang khas warung jawa. Tak berapa lama suguhan soto yang menggugah selera. Ditambah tempe goreng yang lezat dan ada satu lagi makanan yang baru aku makan, lentho. Rasanya mantab. Perut kenyang dan keringat pun mulai meleleh.

Setelah sarapan, saya menuju tempat berlangsungnya pertemuan. Perut kenyang dan udara sejuk di ruang pertemuan menjadikan rasa kantuk mulai menyergapku. Apalagi pembicara yang terlebih dahulu menjadi narasumber begitu monoton. Huah! Sekejap saya terlelap, ketika akhirnya tiba saatnya sang opis boi beraksi untuk menyapu dan mengepel lantai ruang pertemuan. Setelah mengeluarkan beraneka ragam jurus dan gaya, tak terasa jatah saya selesai. Lewat tengah hari, saya pamit untuk kembali ke Jakarta. Saya langsung menuju Bandara Adi Sumarmo. Sambil menunggu penerbangan sore itu, saya memesan makan bistik jawa dan teh poci. Wah, paduan menu yang unik. Rasanya pun maknyus. Sekali waktu jika anda ke Solo mungkin bisa menikmati Soto Triwindu, Bistik Jawa dan Teh Poci yang saya rasakan.

Continue reading »