Seperti Apakah Presiden Indonesia?
Aspirasi May 28th, 2008
Budayawan menyampaikan bahwa degradasi moral dan kemunduran bangsa ini karena meniadakan dan mengkerdilkan kearifan lokal. Sebuah pandangan, idealisme dan norma yang demikian dianut dan dipatuhi turun temurun sehingga menjadi ideologi dalam berfikir, berucap dan berperilaku. Demikian juga dengan Indonesia dan Presidennya. Sebuah kearifan lokal bagaimana memimpin negeri digambarkan ideal seperti kepemimpinan Pandawa dari Negeri Amarta dalam dunia pewayangan. Itulah yang aku coba fahami terhadap apa yang disampaikan Cak Nun (Emha Ainun Najib) ada acara Kenduri Cinta, 16 Mei 2008 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Idealnya, di awal kemerdekaan itu kita mempunyai presiden dengan karakteristik Yudistira (Puntadewa). Tetapi itu hanya sebuah ketidakmungkinan. Apa ada bangsa ini orang yang begitu memikirkan orang lain bahkan seekor anjing daripada memikirkan dirinya sendiri. Kalau perlu istrinya pun diserahkan jika ada yang meminta. wong edan!
Kenyataannya kita mempunyai presiden Bung Karno, yang berperangai mirip Bima (Werkudoro). Blak-blakan, lantang dan keras bicaranya, berani, dan tegas. Masih bagus lah. bagaimanapun, Bima, putra kedua Pandawa adalah insan pilihan.
About