Makan Malam Bersama Bupati

Seminggu terakhir, tak sampai satu hari saya tinggal dirumah. Selama empat hari tiga malam saya menginap di Hotel Grand Permata Bandung. Bosan juga rasanya. Mungkin karena kegiatan seorang opisboi yang tidak lagi sekedar nyapu dan ngepel. Tetapi rapat, rapat dan rapat lagi. Kalau pun istirahat itu karena makan siang, sholat dan tidur. Saat rehat kopi pun tak sempat beranjak pantat dari kursi. Apalagi rapat selalu berakhir hingga menjelang tengah malam. Jenuh dan lelah itu sudah pasti.

Semalam di Garut

Berbincang dengan Bupati Sumba Barat

Berbincang dengan Bupati Sumba Barat

Setelah mbulet di Bandung, jum’at sore [8/5] saya bersama kawan berangkat menuju Garut. Menggunakan dua mobil Toyota Inova, kami beriringan menuju Kota Garut yang ditempuh sekitar 2 jam. Sampai di Sumedang, kami sempatkan menikmati hangatnya tahu sumedang yang terkenal itu. Berharap menemukan sesuatu yang dapat menghilangkan kejenuhan, kami nikmati perjalanan menuju ke Garut. Sekitar jam 19.00 malam, kami sampai di Hotel Agusta. Tidak seperti yang kami bayangkan. Setelah kesumpekan berada di Bandung, saya membayangkan menginap di sebuah hotel atau vila dengan pemandangan perbukitan dan udara sejuk. Ternyata kami menginap tak jauh dari Kota Garut dengan suasana pedesaan dan udara yang cukup panas. Terlebih lagi keadaan Hotel yang tidak lebih nyaman ketika menginap di Bandung. Bahkan jauh lebih buruk.

Sambil menunggu bis rombongan dari Jakarta yang tengah perjalanan, saya menghabiskan waktu dengan bernyanyi. Ditemani seorang biduan dan diiringi organ tunggal, saya memamerkan suara yang terasa sumbang dan fals. Tak peduli. Yang penting puas dan lega. Melepaskan semua kepenatan dan kejenuhan hidup. Bahkan meskipun rombongan dari Jakarta sudah berkumpul di ruangan, saya tetap menyanyi dan berdendang laksana biduan terkenal ibukota. Emang gue pikirin!.

Continue reading »